17 Desember 2008

MENJUAL KEPERAWANAN

Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang
petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan
pada wanita
itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu
yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.
Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus
dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya
tapi,
wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang
dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang
yang sedang ditunggunya.
Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita
nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu
dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang t engah
beranjak dewasa.
Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati
meja wanita itu dan bertanya:
'' Maaf, nona ... Apakah anda sedang menunggu seseorang? "
'' Tidak! '' Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.
'' Lantas untuk apa anda duduk di sini?"
'' Apakah tidak boleh? '' Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas
satpam..
'' Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang
ingin menikmati layanan kami.''
'' Maksud, bapak? "
'' Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini ''
'' Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah
saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual ''
Kata wanita itu dengan suara lambat.
'' Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini? ''
Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang
akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa
brosur.
'' Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk
berjualan. Mohon mengerti. ''
'' Saya ingin menjual diri saya, '' Kata wanita itu dengan tegas sambil
menatap dalam-dalam kearah petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
'' Mari ikut saya, '' Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan
tangannya.
Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum
di wajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti
petugas satpam itu.
Di koridor hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di
sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung
yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal
berlangsung.
'' Apakah anda serius? ''
'' Saya serius '' Jawab wanita itu tegas.
'' Berapa tarif yang anda minta? ''
'' Setinggi-tingginya. .' '
'' Mengapa?" Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.
'' Saya masih perawan ''
'' Perawan? '' Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi
wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari
ini..
Pikirnya
'' Bagaimana saya tahu anda masih perawan?''
'' Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana
bukan.. Ya kan ...''
'' Kalau tidak terbukti? "
'' Tidak usah bayar ...''
'' Baiklah ...'' Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke
kiri dan ke kanan.
'' Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan
anda. ''
'' Cobalah. ''
'' Berapa tarif yang diminta? ''
'' Setinggi-tingginya. ''
'' Berapa? ''
'' Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa? ''
'' Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya.
''
Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.
Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah
cerah.
'' Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana?
''
'' Tidak adakah yang lebih tinggi? ''
'' Ini termasuk yang tertinggi, '' Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.
'' Saya ingin yang lebih tinggi...''
'' Baiklah. Tunggu disini ...'' Petugas satpam itu berlalu.
Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.
'' Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana? ''
'' Tidak adakah yang lebih tinggi? ''
'' Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda
diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai
perawan
anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa,
kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel
berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya
dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik
terhadap
saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu
hotel. Adilkan. Kita sama-sama butuh ... ''
'' Saya ingin tawaran tertinggi ... '' Jawab wanita itu, tanpa peduli
dengan celoteh petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.
'' Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya.
Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit.
Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. '' Kata petugas
satpam itu dengan agak kesal.
Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti
langkah petugas satpam itu memasuki lift.
Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak
berumur tersenyum menatap mereka berdua.
'' Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? " Kata petugas satpam
itu dengan sopan.
Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu
...
'' Berapa? '' Tanya pria itu kepada Wanita itu.
'' Setinggi-tingginya '' Jawab wanita itu dengan tegas.
'' Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? '' Kata pria itu
kepada sang petugas satpam.
'' Rp.. 6 juta, tuan ''
'' Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam. ''
Wanita itu terdiam.
Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban
bagus dari wanita itu.
'' Bagaimana? '' tanya pria itu.
''Saya ingin lebih tinggi lagi ...'' Kata wanita itu.
Petugas satpam itu tersenyum kecut.
'' Bawa pergi wanita ini. '' Kata pria itu kepada petugas satpam sambil
menutup pintu kamar dengan keras.
'' Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin
menjual? ''
'' Tentu! ''
'' Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu ... ''
'' Saya minta yang lebih tinggi lagi ...''
Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun
tak ingin kesempatan ini hilang.
Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.
'' Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba
mencari penawar yang lainnya. ''
Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria
yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya.
Sudah
sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari
hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon
genggamnya.
'' Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah.
Apakah itu tidak cukup? " Terdengar suara pria itu berbicara.
Wajah pria itu nampak masam seketika
'' Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu.
Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?! ''
Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan
wanita.
Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajah
pria itu.
Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: '' Pak, apakah
anda butuh wanita ... ??? ''
Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan
wajahnya.
'' Ada wanita yang duduk disana, '' Petugas satpam itu menujuk kearah
wanita tadi.
Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.
"Dia masih perawan..''
Pria itu mendekati petugas satpam itu.
Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. '' Benarkah itu? ''
'' Benar, pak. ''
'' Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu ... ''
'' Dengan senang hati. Tapi, pak ...Wanita itu minta harga setinggi
tingginya.''
'' Saya tidak peduli ... '' Pria itu menjawab dengan tegas.
Pria itu menyalami hangat wanita itu.
'' Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang
seriuslah ....'' Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.
'' Mari kita bicara di kamar saja.'' Kata pria itu sambil menyisipkan uang
kepada petugas satpam itu.
Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.
Di dalam kamar ...
'' Beritahu berapa harga yang kamu minta? ''
'' Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit ''
'' Maksud kamu? ''
'' Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk
kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih .... ''
'' Hanya itu ...''
'' Ya ...! ''
Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual
kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual
penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah
berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar,
bahwa
di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari
kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah
pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanta ini tidak melawan gelombang laut
melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas
keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan
dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.
'' Siapa nama kamu? ''
'' Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar ... '' Kata
wanita itu
'' Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang
pantas ditawar. ''
''Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! ''
'' Ada ! " Kata pria itu seketika.
'' Sebutkan! ''
'' Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu.
Terimalah uang ini.
Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit.
Dan sekarang pulanglah ... '' Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari
dalam tas kerjanya.
'' Saya tidak mengerti ...''
'' Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya.
Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterima kasih.
Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta.
Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita
yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya.
Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar ...''
'' Dan, apakah bapak ikhlas...? ''
'' Apakah uang itu kurang? ''
'' Lebih dari cukup, pak ... ''
'' Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? ''
'' Silahkan ...''
'' Mengapa kamu begitu beraninya ... ''
'' Siapa bilang saya berani. Saya takut pak ...
Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu
saya ke rumah sakit dan semuanya gagal.
Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu
bukanlah karena dorongan nafsu.
Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh` ... Saya hanya bersikap dan
berbuat untuk sebuah keyakinan ... ''
'' Keyakinan apa? ''
'' Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah
yang akan menjaga kehormatan kita ... '' Wanita itu kemudian melangkah
keluar
kamar.
Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:
'' Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini ... ''
'' Kesadaran... ''
.. . .
Di sebuah rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring
sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.
'' Kamu sudah pulang, nak ''
'' Ya, bu ... ''
'' Kemana saja kamu, nak ... ???''
'' Menjual sesuatu, bu ... ''
'' Apa yang kamu jual?'' Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita
muda itu hanya tersenyum ...
Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah
kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang
gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang
tak bisa dielakan. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa
perhitungan
....
'' Kini saatnya ibu untuk berobat ... ''
Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: '' Tuhan telah
membeli yang saya jual... ''.
Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan
rumahnya. Dimasukannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata
kepada supir taksi: '' Antar kami kerumah sakit ...''

Disadur dari

-Rachel
Http://remang-remang.blogspot.com/2008/12/deasy-sang-penderita -retinitis.html

29 November 2008

Buktikan Syukurmu dengan Berkurban

Penulis : Muhammad Rizqon

Rasulullah Saw adalah pemimpin ummat yang konsisten dalam menegakkan qiyamullail. Beliau rela bersusah-payah menahan kantuk dan berdiri lama, bahkan dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa beliau –demi menahan kantuknya itu-mengikatkan badan beliau pada suatu penahan agar belia tetap tegak berdiri (tidak jatuh), padahal beliau telah dijamin oleh Allah SWT dengan surga-Nya. Tak ayal, bengkak-bengkak pada kaki Rasulullah Saw pun timbul akibat lamanya beliau berdiri ketika bermunajat di sepertiga malam terakhir itu. Subhanallah. Ketika isteri beliau bertanya, "Wahai Rasulullah Saw, kenapa engkau bersusah payah dalam beribadah padahal Allah telah menjaminmu dengan surga?" Dengan retoris Rasulullah Saw menjawab, "Apakah aku tidak boleh menjadi hamba-Nya yang bersyukur?"

Kisah tersebut adalah kisah indah yang membekaskan banyak hikmah. Pertanyaan yang dilontarkan oleh isteri beliau seakan mewakili sebuah pertanyaan yang lazim pada diri kita sekarang ini. Kita heran ketika seorang hamba diberikan dispensasi untuk bersenang-senang atau bersantai-santai, dia justru tidak mau memanfaatkannya. Kita heran ketika menyaksikan orang yang sudah kaya tetapi dia tetap terus bekerja, kita heran menyaksikan orang yang sudah pintar tetapi dia tetap terus belajar, dan sebagainya. Pertanyaan ini boleh jadi timbul karena yang bertanya adalah hawa nafsu kita bukan hati nurani kita. Hawa nafsu cenderung pada kesenangan yang menipu, namun hati selalu cenderung pada kesenangan yang hakiki.

Terus belajar, terus bekerja, terus berinstospeksi dan memperbaiki diri adalah wujud kesenangan hati yang tidak disukai oleh hawa nafsu. Dia rela melakukan semua itu sebagai wujud cinta, bakti, dan syukur kepada Allah SWT. Posisi yang menguntungkan bukan makin melemahkan semangat, justru makin melejitkan semangat untuk terus berbuat sesuatu yang berarti demi meraih ridho-Nya.

Dalam kaitannya dengan ibadah kurban, saya mengambil pelajaran bahwa Rasulullah Saw bercapai-capai, bersusah-payah mengurbankan fisiknya menegakkan qiyammullail hanya karena ingin membuktikan bahwa beliau adalah hamba Allah yang bersyukur.

Menjadi hamba Allah yang bersyukur (abdan syakuran) agaknya bukan menjadi hal yang mudah, terlebih bagi kita yang masih banyak berkubang dengan dosa. Membuktikan syukur tidak sekedar dengan cara lisan mengucap "Alhamdulillah", tetapi yang lebih essensial adalah dengan ketatatan dan pengorbanan (baik harta atau jiwa) demi menegakkan suatu ibadah kepada-Nya.

Cobalah kita renungkan, setiap ibadah pasti membutuhkan pengorbanan baik materi maupun fisik. Sholat berjamaah di masjid misalnya, secara materi ia mensyaratkan pakaian yang menutupi aurat dan bebas dari najis dan secara fisik ia mensyaratkan keringanan langkah menuju masjid. Mengenakan jilbab syar'i bagi muslimah misalnya, secara materi ia mensyaratkan bahan pakaian yang tidak transparan, longgar agar tidak membentuk lekukan tubuh, nyaman dipakai, sedikit mahal, dan lain-lain dan secara fisik ia mensyaratkan kesabaran ekstra dari sang muslimah untuk istiqomah mengenakannya. Bukankah mengenakan busana muslimah terkesan lebih "ribet" bagi orang tertentu dibanding dengan hanya menggenakan celana pendek dan kaos oblong saja? Hal ini cukup menunjukkan bahwa mengenakan jilbab pun memerlukan pengorbanan fisik di sana.

Contoh yang lebih gamblang adalah menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Secara materi, ia mensyaratkan sejumlah dana harus dikeluarkan dan secara fisik, ia mensyaratkan kondisi kesehatan yang cukup prima untuk melaksanakannya. Dalam ibadah kurban pun, selain secara materi disyaratkan adanya sejumlah dana senilai hewan ternak tertentu, secara fisik dianjurkan adanya upaya tertentu, misalnya mengusahakan (memilih) kambing terbaik dan menyembelih sendiri hewan kurban itu.

***

Suatu ketika, Aripin seorang anak muda yang bekerja di perkantoran elit, ditawarkan oleh ayahnya apakah ingin berkurban atau tidak, untuk masyarakat di sebuah desa kecil di Sipirok (kampung ayahnya). Sebagai anak muda yang baru beberapa tahun menikmati uang hasil dari bekerja, tentu keinginan yang ada dibenaknya cukup beragam, yang jelas bukan untuk urusan ibadah seperti berkurban itu.

Namun kali ini, ia merasa bimbang. Sudah beberapa kali ia ditawari untuk berkurban oleh ayahnya, namun selalu saja ia mengelak dengan alasan masih banyak kebutuhan ini dan itu. Di tengah kebimbangan yang masih menggelayuti hatinya, di depan rumah ia bertemu dengan Pak Hasan, kawan ayahnya yang kini sama-sama sudah pensiun. Beliau adalah sahabat ayahnya yang jujur, terpercaya dan sampai saat ini masih menjalin hubungan baik meski terpisah dengan ayahnya yang kini berada Medan.

Pagi itu, Pak Hasan yang sedang berjalan-jalan mengelilingi komplek. Ketika bertemu di depan rumah, beliau berhenti dan menanyakan kabar ayahnya,

"Assalamu'alaikum. Eh Pin, gimana kabar papa? Katanya ada acara kurban di kampung papa."
"Waalaikum Salam, Baik Om. Iya, Papa memang selalu berkurban untuk masyarakat di sana."
"Siapa aja yang berkurban. Kamu kurban juga ngga?"

Ia pun menyebutkan beberapa saudara yang telah berkomitmen menyerahkan hewan kurban untuk kampung papanya, ketika menjawab pada pertanyaan menyangkut dirinya ia berujar,

"Kalau saya, nggak tahu ni Om. Penginnya sih berkurban, tapi kayaknya masih banyak kebutuhan Om."

Buru-buru Pak Hasan itu langsung menyahut dan memotong ucapannya,

"Gini Pin, kalau di hati kamu sudah terbetik niatan untuk berkurban, jangan kamu tunda, berkurbanlah. Saya tahu, sebagai anak muda, kamu pasti pengin yang macam-macam. Bersenang-senang lah, jalan-jalan lah, tapi yakinlah dengan berkurban kamu akan merasakan kenikmatan yang luar biasa dan kamu akan mendapatkan rezeki yang jauh lebih besar dibanding jika kamu tidak berkurban. Yakin itu."

Selanjutnya, mengalirlah dari mulut Pak Hasan itu beberapa kata hikmah tentang ibadah kurban dan pengalaman-pengalaman ibadah yang selama ini beliau lakukan.

Kata-kata Pak Hasan yang dipanggilnya Om oleh Aripin itu, begitu menghipnotis dan mengunci mati keinginan hawa nafsunya yang masih ingin berhura-hura dan bersenang-senang itu.

Di akhir pembicaraan, tekad Aripin untuk berkurban pertama kali itu pun membulat. Hal itu dibuktikan dengan kata-katanya,

"Iya dech Om. Saya akan berkurban. Terima kasih ya Om."

Pak Hasan tampak tersenyum puas karena bisa menundukkan jiwa anak muda yang semula diliputi kebimbangan itu.

***

Adakalanya kita bersikap seperti Aripin tatkala muncul dihadapan kita peluang untuk menyisihkan sebagian harta guna berkurban. Tiba-tiba saja terbayang dibenak kita aneka kebutuhan yang masih tertunda dan "harus" dipenuhi segera. Padahal jika kita pikir ulang, kebutuhan itu bukanlah kebutuhan sebenarnya yang bersifat mendesak melainkan hanya sekedar keinginan hawa nafsu belaka.

Dalam kondisi seperti itu, bagi yang memiliki kelebihan harta, sebenarnya kita sedang diuji, apakah kita termasuk hamba Allah yang bersyukur atau tidak. Bukankah harta yang diperoleh selama ini adalah anugerah dan pemberian-Nya? Kenapa ketika Allah Swt menghendaki kita menyisihkan sebagian kecil saja, timbul rasa berat di dalam jiwa? Sungguh jika kita mau berinstrospeksi betapa anugerah Allah Swt yang dilimpahkan kepada kita begitu banyak dan tak terhingga, hati kita akan merasa sangat ringan untuk berkorban.

Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah." (108:1-2)

Jelas bahwa Allah memberikan kepada kita nikmat yang banyak. Kita lahir dalam kondisi tidak memiliki apa-apa. Maka segala apa yang ada pada kita kini adalah semata-mata karena nikmat dari-Nya. Guna mewujudkan rasa syukur atas kenikmatan itu, maka jalan terbaik adalah memperkuat ketaatan kepada Allah SWT. Dan ibadah kurban adalah salah satu bentuk ketaatan yang dianjurkan oleh-Nya.

Semoga kita bisa membuktikan rasa syukur kita dengan berkorban. Secara simbolis kita memang mengkorban hewan ternak, namun secara substansi kita mengkorban sifat-sifat buruk dari dalam diri kita.

21 Juli 2008

Kegelisahanku

Malam-malam terakhir ini ada pikiran yang menggantung di benakku. Beberapa tawaran menarik datang mengusik ketenangan hari-hariku. Sejujurnya tawaran yang datang itu sungguh menantang dan menggairahkan. Bagaimana tidak, rupiah yang dijanjikan sebagai kompensasi dari tetes keringatku, hampir dua kali lipat gajiku saat ini. Kemudian prospek karir dan bertambahnya wawasan juga sungguh menjanjikan. Bukan hal yang mudah untuk menafikan semua tawaran itu. Ada terbersit rasa bangga di hati, sebetulnya, bahwa kemampuan dan skill-ku dihargai dengan nilai yang tinggi.

Ditambah lagi, kalau mau jujur, tempatku mencari nafkah saat ini sesungguhnya tidak lagi memberikan tantangan yang cukup. Hari-hari dilalui tanpa tantangan yang memacu adrenalin memadukan deadline dan keahlian. Business as usual. Tidak ada lagi kreasi dan inovasi yang dituntut. Semua berjalan sesuai dengan permintaan dan kebutuhan. Jujur, terkadang ini menjadi sesuatu yang menjemukan. Sehingga seolah-olah tawaran ini menjadi solusi terbaik untuk karirku.

Tapi, untuk menerima tawaran ini kok sepertinya juga bukan sesuatu yang mudah. Kondisi bapakku yang sedang sakit-sakitan membuatku harus berpikir puluhan bahkan ratusan kali sebelum menerima tawaran untuk pindah ke kota lain. Sebagai anak laki-laki yang menjadi tulang punggung, sepertinya kok tidak beradab sekali kalau aku hanya memikirkan karir dan kebutuhanku belaka.

Aku bingung...................

19 Juli 2008

First posting

Hidup terus bergulir, sementara umur terus bertambah tua. Tidak terasa umur jagoanku sudah 2 tahun 4 bulan. Sesaat yang lalu aku masih lah seorang bocah yang kerap kali harus bertarung, bercucuran keringat, dan tak jarang harus menangis dalam menghadapi kerasnya hidup.

Hari-hari yang telah ku lewati, baik sengaja atau tidak, telah membentuk karakter dan watak pribadiku. Karakter yang keras kepala, sangat detil bahkan cenderung complicated (kalau menurut mamanya Kamil), pantang menyerah, dan sometimes sangat melow sehingga kadangkala mudah dieksploitasi orang lain (Ini juga masih menurut mamanya Kamil).

Namun, dari keseluruhannya, tujuan hidupku sebetulnya sangat sederhana. Aku ingin hidupku bisa membawa kebahagiaan bagi semua orang, terutama bagi keluargaku. Aku ingin hidupku ini menjadi barokah bagi orang lain.