Malam-malam terakhir ini ada pikiran yang menggantung di benakku. Beberapa tawaran menarik datang mengusik ketenangan hari-hariku. Sejujurnya tawaran yang datang itu sungguh menantang dan menggairahkan. Bagaimana tidak, rupiah yang dijanjikan sebagai kompensasi dari tetes keringatku, hampir dua kali lipat gajiku saat ini. Kemudian prospek karir dan bertambahnya wawasan juga sungguh menjanjikan. Bukan hal yang mudah untuk menafikan semua tawaran itu. Ada terbersit rasa bangga di hati, sebetulnya, bahwa kemampuan dan skill-ku dihargai dengan nilai yang tinggi.
Ditambah lagi, kalau mau jujur, tempatku mencari nafkah saat ini sesungguhnya tidak lagi memberikan tantangan yang cukup. Hari-hari dilalui tanpa tantangan yang memacu adrenalin memadukan deadline dan keahlian. Business as usual. Tidak ada lagi kreasi dan inovasi yang dituntut. Semua berjalan sesuai dengan permintaan dan kebutuhan. Jujur, terkadang ini menjadi sesuatu yang menjemukan. Sehingga seolah-olah tawaran ini menjadi solusi terbaik untuk karirku.
Tapi, untuk menerima tawaran ini kok sepertinya juga bukan sesuatu yang mudah. Kondisi bapakku yang sedang sakit-sakitan membuatku harus berpikir puluhan bahkan ratusan kali sebelum menerima tawaran untuk pindah ke kota lain. Sebagai anak laki-laki yang menjadi tulang punggung, sepertinya kok tidak beradab sekali kalau aku hanya memikirkan karir dan kebutuhanku belaka.
Aku bingung...................
21 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar